Mengenal Seluruh Komponen Main Hydraulic Pump Excavator
Konstruksi Main Hydraulic Pump
Secara umum, main pump terdiri atas:
- Drive Shaft
- Bearing
- Cylinder Block
- Piston Assembly
- Slipper
- Retainer Plate
- Ball Guide
- Swash Plate
- Valve Plate
- Port Plate
- Servo Piston
- Bias Spring
- Pump Housing
- Case Drain
- Charge Pump (pada tipe tertentu)
- Regulator
- Pressure Compensator
- Torque Control
- Solenoid Control
- Shaft Seal
Masing-masing memiliki fungsi yang saling berkaitan.
1. Drive Shaft
Drive shaft adalah poros utama yang menerima putaran langsung dari engine melalui coupling atau gear train.
Fungsi
- Mengubah tenaga putar engine menjadi putaran cylinder block.
- Menyalurkan torsi ke seluruh mekanisme pompa.
- Menjaga sinkronisasi putaran seluruh piston.
Beban yang Diterima
Drive shaft menerima:
- Beban puntir (torsional load)
- Beban radial
- Beban aksial
- Getaran engine
Karena itu shaft dibuat dari baja paduan yang telah melalui proses heat treatment.
Kerusakan yang Sering Terjadi
- Spline aus
- Shaft patah
- Fretting corrosion
- Keausan journal bearing
- Permukaan shaft tergores
Penyebab
- Misalignment engine
- Coupling longgar
- Overload
- Bearing macet
- Kontaminasi oli
Gejala
- Bunyi kasar
- Getaran meningkat
- Kebocoran seal
- Putaran tidak stabil
2. Bearing
Bearing menopang drive shaft agar dapat berputar dengan gesekan seminimal mungkin.
Jenis bearing dapat berupa:
- Taper Roller Bearing
- Needle Bearing
- Ball Bearing
tergantung desain pompa.
Fungsi
- Menahan beban radial
- Menahan beban aksial
- Menjaga posisi shaft
- Mengurangi gesekan
Kerusakan
Bearing menjadi salah satu komponen pertama yang rusak apabila oli terkontaminasi.
Mode kegagalan:
- Pitting
- Spalling
- Brinelling
- Overheating
- Cage failure
Gejala
✔ suara mendengung
✔ vibrasi tinggi
✔ temperatur housing meningkat
✔ serpihan logam pada oil filter
3. Cylinder Block
Cylinder block merupakan rumah bagi seluruh piston.
Pada excavator biasanya terdapat:
9 piston
atau
7 piston
tergantung desain pompa.
Cylinder block akan berputar bersama shaft.
Fungsi
- Menjadi jalur piston
- Menyalurkan oli dari suction menuju discharge
- Menjaga sealing piston
Material
Umumnya dibuat dari:
High Carbon Alloy Steel
yang memiliki kekerasan tinggi.
Kerusakan
Yang paling sering terjadi:
- Bore wear
- Ovality
- Scoring
- Cracking
Penyebab
- Abrasive contamination
- Pelumasan buruk
- Overheating
- Cavitation
4. Piston Assembly
Piston merupakan komponen yang menghasilkan perubahan volume.
Saat shaft berputar:
Piston bergerak maju mundur.
Gerakan inilah yang menghasilkan:
- suction
- compression
- discharge
Material
Biasanya:
Chrome Alloy Steel
dengan finishing sangat halus.
Clearance piston sangat kecil.
Bahkan hanya beberapa mikron.
Kerusakan
Sering ditemukan:
- Scuffing
- Scoring
- Wear
- Pitting
- Seizure
Dampaknya
Internal leakage meningkat.
Flow turun.
Pressure turun.
Efisiensi pompa turun drastis.
5. Slipper
Slipper merupakan salah satu komponen paling kritis.
Komponen ini selalu bergesekan dengan swash plate.
Walaupun bergesekan, kedua komponen sebenarnya tidak boleh saling menyentuh langsung.
Di antaranya terdapat oil film.
Oil film inilah yang mencegah keausan.
Fungsi
- Mengikuti sudut swash plate
- Mengubah putaran menjadi gerakan reciprocating
- Menjaga kontak hidrodinamik
Kerusakan
Slipper sering mengalami:
- Scoring
- Burning
- Wear
- Edge Chipping
Penyebab
- Oli kotor
- Kekurangan oli
- Overheating
- Viskositas rendah
- Udara masuk
Jika oil film hilang maka slipper langsung menggesek swash plate.
6. Swash Plate
Swash plate merupakan "otak mekanik" dari pompa.
Komponen ini menentukan:
berapa jauh piston bergerak.
Semakin besar sudut swash plate:
➡ displacement naik
➡ flow naik
➡ tenaga naik
Semakin kecil sudut:
➡ flow turun
➡ engine load turun
➡ fuel consumption turun
Material
Swash plate dibuat dari baja dengan permukaan yang sangat keras.
Sering menggunakan:
Induction Hardened Steel
Kerusakan
Yang paling sering ditemukan:
- Mirror polishing
- Scoring
- Scratch
- Thermal crack
Penyebab
- Slipper rusak
- Kontaminasi
- Overheating
- Oil starvation
Jika swash plate sudah tergores maka seluruh pompa biasanya harus dioverhaul.
7. Valve Plate
Valve plate adalah komponen yang mengatur:
- suction port
- discharge port
Seluruh proses keluar masuk oli terjadi di sini.
Fungsi
- Mengatur timing aliran oli
- Memisahkan suction dan discharge
- Menjaga efisiensi volumetrik
Kerusakan
Valve plate sangat sering mengalami:
- Crescent wear
- Scoring
- Micro pitting
- Burn mark
Penyebab
- Partikel logam
- Debu silika
- Air
- Tekanan tinggi
- Pelumasan buruk
8. Retainer Plate
Retainer menjaga seluruh slipper tetap berada pada posisi yang benar.
Jika retainer rusak:
Slipper dapat meloncat.
Piston akan macet.
Main pump dapat langsung kehilangan tekanan.
Kerusakan
- Crack
- Fatigue
- Wear
9. Ball Guide
Ball guide menjaga piston tetap sejajar.
Komponen ini sering luput saat inspeksi.
Padahal apabila aus maka:
- piston miring
- slipper tidak rata
- swash plate cepat aus
10. Servo Piston
Servo piston merupakan bagian sistem kontrol.
Komponen inilah yang mengubah sudut swash plate.
Input berasal dari:
- regulator
- pressure compensator
- electronic controller
Kerusakan
Jika servo macet maka:
- pompa selalu full stroke
- pompa selalu minimum stroke
- excavator menjadi lambat
- engine overload
11. Shaft Seal
Seal mencegah oli keluar dari housing.
Kerusakan seal sering dianggap sepele.
Padahal kebocoran kecil dapat menyebabkan:
- udara masuk
- aerasi
- cavitation
- kerusakan pompa
12. Case Drain
Case drain berfungsi mengembalikan oli bocor internal menuju tangki.
Jumlah oli case drain merupakan indikator kesehatan pompa.
Semakin besar internal leakage maka:
➡ case drain meningkat.
Karena itu pengukuran case drain merupakan salah satu metode diagnosis paling akurat tanpa membongkar pompa.
Nilai Case Drain
Secara umum:
- Normal: rendah dan stabil sesuai spesifikasi pabrikan.
- Mulai aus: meningkat dibanding baseline unit.
- Parah: aliran case drain tinggi disertai penurunan tekanan dan performa.
Catatan: Nilai batas berbeda untuk setiap model pompa dan excavator. Selalu gunakan spesifikasi dari manual servis OEM saat melakukan pengujian.
Hubungan Antar Komponen
Seluruh komponen di atas bekerja seperti rantai.
Contoh:
Kontaminasi kecil pada oli
↓
Slipper tergores
↓
Swash plate ikut aus
↓
Piston bocor
↓
Valve plate rusak
↓
Flow turun
↓
Pressure turun
↓
Operator mengeluh unit lemah
↓
Main pump overhaul
Inilah alasan mengapa analisis akar penyebab (Root Cause Analysis) jauh lebih penting daripada sekadar mengganti komponen yang rusak.
Analisa Kerusakan Main Pump Excavator Lengkap
Oil Analysis pada Main Pump Excavator
Flowchart Troubleshooting Main Pump Excavator dan Tabel Diagnosis Lengkap
Diagnosis Main Pump Excavator: Pressure Test, Flow Test, Case Drain Test, dan Analisis Lapangan
Posting Komentar